deringhanpfon di telinganya meledak. saat di bacanya daun saledri dari sawah . Kami tak ingin mengatakan, jika ini Durjana. walau badai api di jantung sudah menyala. Petani-petani masih memendam amarah . Telenovela nyanyian pecundang . ia tembus matahari dan merobeknya di. langit ke tujuh. Malaikat-Malaikat diam. tertunduk! 2017-2018 Melaluilagu ini, Iwan Fals juga mengingatkan kepada generasi muda untuk mau menjadi petani. Jumlah petani yang ada di Indonesia semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh enggannya para pemudanya untuk bekerja di sawah, lebih-lebih para pemudinya. Takut tidak cantik karena tersengat matahari langsung dan kotor. Padahal itulah cantik yang 3Desember 2017 24,895 Views. M ULAI Minggu ini Kebangsaan) mencoba menampilkan puisi-puisi yang berbicara tentang "Kebangsaan". Tak ada maksud lain, kecuali "Puisi-puisi Kebangsaan" diharapkan bisa menginspirasi kita semua tentang arti pentingnya mengobarkan, menghormati dan menjaga harkat, nilai-nilai dan semangat Dipagarisawah-sawah. Bagaikan sekuntum bunga. Desaku indah di Indonesia. Bila penghujan tiba. Airnya mencurah menuju sawah. Di sanalah petani bekerja. Mengolah ladang dan sawah nya. CONTOH 8 Petani Bertopi Lebar. Ada petani bertepi lebar. Bekerja di pematang sawah. Membersihkan pagi dari gulma. Agar padi tidak terserang hama. Sebilah di tangan PuisiPuisi Acep Zamzam Noor. Ahad, 13 Mei 2012 | 04:16 WIB. Cipasung. Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning. Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri. Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu. Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental. Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup. Gemercikdan aliran air mengiringi kepergian Sang petani, meninggalkan sawah nan luas terbentang Langit kelam menghantar jalannya hingga ke tujuan. Ilalangpun memberikan salam perpisahan kepadanya. Nyanyian indah burung pipit, tak hayal menyejukkan hati mereka. Puisi- Wajah Petani Maret 18, 2018. Facebook. Sajak Agus Yulianto Wajah P etani Senja tak seindah dulu menjadi gersang dan dangkal. dari balik jendela matamu menent Sajak Agus Yulianto. Wajah P etani. Senja tak seindah dulu. menjadi gersang dan dangkal. dari balik jendela matamu menentang Dalampuisi Indonesia, penyair Subagio Sastrowardoyo sering meng-gunakan ironi, misalnya pada puisi berjudul "Nyanyian Ladang" berikut. Kau akan cukup punya istirah Di hari siang. Setelah selesai mengerjakan sawah Pak tani, jangan menangis Kau akan cukup punya sandang Buat menikah. Setelah selesai melunas hutang Pak tani, jangan menangis. Berikutini kami sajikan kumpulan puisi yang mengangkat tema "Petani." 1. Nyanyian Petani Kami yang berangkat sebelum matahari bangun Dan pulang saat matahari terbenam Tak pernah sekalipun merasakan kemewahan Berada di rumah nyaman dengan banyak kendaraan Kami adalah para penjaga lahan Yang saban hari menghasilkan banyak sumber makanan Home» Uncategories » Sketsa Petani : Lanjutkan Puisi Nyanyian Petani Di Sawah Berikut Ini Dengan Berjuta Harapan Di Dada Mereka Brainly Co Id - Gambar mewarnai topi petani kumpulan gambar mewarnai kumpulan. By Yadira Boehm Sunday, May 16, 2021. Jq3h5P2. Bacalah puisi di bawah ini! Petani Dari sawah dan ladang Petanilah penanamnya Hujan rintik tak membuat terbit malasnya …………………………………………………. Demi membuahkan padi berlimpah Karena masyarakat butuh pangan Terima kasih petani Kalimat yang tepat untuk melengkapi bagian puisi yang kosong adalah … Wednesday, May 13, 2015 Puisi Berkaca Pada Embun Di Pematang Sawah. Sawah adalah tanah yang digarap dan dan dialiri dengan air untuk menanam padi. dan untuk keperluan ini, sawah harus mampu menyangga genangan air dikarenakan padi memerlukan penggenangan pada periode tertentu dalam pertumbuhannya. dan untuk mengairi sawah digunakan sistem irigasi dari mata air, sungai ataupun air hujan. Berkaca pada embun di pematang sawah. judul puisi dikesempatan ini, Bagaimana puisinya untuk lebih jelasnya silahkan disiak saja puisinya berikut ini. Puisi Berkaca Pada Embun Di Pematang Sawah Oleh Penyair Kecil Rerimbunan embun yang mengakar di rerumputan Taburkan bening pada mata berkaca Masih sendiri duduk anggun disiram hangat sajak-sajak surya Dan semua telah tersimpan lalu memudar tanpabicara Tengok pengembala mengiring kawanan domba Dengan seikat sarung disampirkan pada lengannya Kawanan domba berjalan lalu sesekali terhenti Menikmati rerumputan hijau tak gersang di pagihari Daun-daun di atas bukit mulai bergoyang ramai Nyanyian-nyanyian alam hentakkan seluruh penjurunegeri Siul-siul pengembala ramaikan angin di atas bukit ini Nyanyian petani mulai berduyun ramaikan negeri Sungguh kemilau berkaca pada rerimbunan embun di pematang sawah Dari bukit di atas desa yang ramah Akan peristiwa langlah tak dapat terlihat Olehmu, olehnya yang masih duduk dengan kehangatan surya di bawah langit kota Jakarta 13 Mei 2015 Demikianlah puisi Berkaca Pada Embun Di Pematang Sawah. Simak/baca juga puisi puisi yang lain di blog ini. Semoga puisi di atas menghibur dan bermanfaat, Jangan lupa di share puisinya yah... Sampai jumpa di artikel puisi selanjutnya dengan label puisi alam. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung. Puisi tentang Sawah untuk Pencinta Alam, foto Unsplash/Mufid MajnunPuisi tentang Sawah untuk Pencinta AlamPuisi tentang Sawah untuk Pencinta Alam, foto Unsplash/Ramadhani RafidSejuta pesona tetap teruraiTak pernah habis menuai kagumHariku menjadi hari paling indahKetika memandang sawah itu lewat binar matakuHijaunya melepas senyumDari bibir yang tak dapat berkataIndahnya memenuhi jiwaDi kemudian hari, aku ingin berkunjung lagiLewat tangan-tangan petaniKau indahkan desa iniTak hanya dengan hijau dan asrimuNamun juga dengan hasil padimu yang berlimpahDi atas tanah yang suburKau masih menjadi tempat favoritkuUntuk merenung dan bersyukurAtas karunia Tuhan yang tak hentiBanyak tempat indah di duniaNamun tak banyak yang terasa seperti rumahBerbeda dengan sawah yang bisa kujangkauDengan lima menit berjalan kakiKala petani bekerjaKala kerbau membajak sawahKala padi siap dipetikSegalanya ingin terus kupandangSegalanya terus membuatku ingin pulangUndak demi undak sawahYang terhampar hijau di hadapan matakuMasih berkilau di bawah langitSeperti zamrud bagi duniaAlam akan selalu seindah iniSelama hamparan itu masih membentangMengurai barisan padi yang merundukMencium tanah yang kian suburSawah yang hijau dan cantik ituTelah menjadi galeri seni milikku sendiriTangan seniman bahkan tak kuasaMemeluk megahnya hamparan ituSetiap kakiku menjejaki tepiannyaSenyum tak dapat luput di wajahkuSatu-persatu selalu kulukis kagumDi bagian terdalam sanubariku